Dalam proses pendidikan dokter gigi, praktik laboratorium menjadi tahapan krusial sebelum mahasiswa berhadapan langsung dengan pasien. Laboratorium keterampilan (skill’s lab) menuntut mahasiswa untuk mampu melakukan preparasi, penambalan, hingga memahami sensasi taktil yang menyerupai kondisi nyata. Media latihan yang digunakan adalah model gigi tiruan.

Sayangnya, model gigi yang beredar di pasaran saat ini masih memiliki banyak keterbatasan. Umumnya terbuat dari resin poliester atau general purpose resin, produk ini cenderung lebih lunak dibanding gigi asli. Akibatnya, mahasiswa tidak bisa memperoleh pengalaman latihan yang realistis. Lebih jauh, riset juga menyebutkan bahwa resin berpotensi melepaskan senyawa kimia Tinuvin 292 yang dapat mencemari lingkungan.

Dari sisi ekonomi, persoalannya tak kalah pelik. Harga satu buah model gigi resin pabrikan mencapai sekitar Rp40.000, sementara untuk satu skenario praktik mahasiswa membutuhkan ±10 buah. Jika dikalikan dengan banyaknya kasus yang harus dijalani, biaya ini tentu cukup memberatkan.

Berangkat dari permasalahan tersebut, sekelompok mahasiswa berinisiatif mencari solusi yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan. Hasilnya adalah lahirnya produk bernama Polyshell Dent, model gigi alternatif berbahan dasar limbah plastik polypropylene (PP) dari wadah makanan sekali pakai dan kalsium karbonat dari limbah cangkang kerang darah (Anadara granosa).

Plastik PP dipilih karena sifatnya ringan, licin, serta tahan terhadap bahan kimia. Ketika dikombinasikan dengan serbuk kalsium karbonat, material ini menjadi lebih kuat dan kaku. Dengan demikian, model gigi yang dihasilkan lebih menyerupai kondisi gigi manusia.

Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait sampah. KLHK mencatat, pada 2022 jumlah sampah nasional mencapai 68,5 juta ton, di mana 18,7% di antaranya berupa plastik. Plastik PP adalah salah satu penyumbang utama karena sering dipakai untuk wadah makanan dan kemasan sekali pakai.

Di sisi lain, sektor perikanan juga menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Cangkang kerang darah yang kaya kalsium karbonat sebagian besar hanya berakhir di tempat pembuangan. Padahal, menurut penelitian, kandungan kalsium karbonatnya mencapai 98%, sehingga potensial dijadikan bahan tambahan (filler) pada polimer.

Polyshell Dent hadir sebagai jawaban. Dengan memanfaatkan kedua jenis limbah tersebut, mahasiswa tidak hanya menghasilkan produk edukatif, tetapi juga berkontribusi mengurangi timbunan sampah plastik dan limbah laut.

Produk ini memiliki beberapa poin keunggulan dibanding model gigi resin pabrikan, antara lain:

  1. Sensasi Lebih Nyata
    Penambahan kalsium karbonat meningkatkan kekerasan plastik PP sehingga lebih mendekati gigi asli. Mahasiswa bisa merasakan pengalaman praktik yang lebih realistis.

  2. Ramah Lingkungan
    Riset membuktikan Polyshell Dent dapat terdegradasi dalam waktu sekitar 25 hari di tanah, jauh lebih cepat dibanding resin yang sulit terurai.

  3. Harga Lebih Murah
    Dengan bahan baku yang berasal dari limbah, biaya produksi dapat ditekan. Mahasiswa pun bisa berhemat tanpa mengurangi kualitas latihan.

  4. Solusi Pengelolaan Sampah
    Pemanfaatan plastik PP dan cangkang kerang menjadi model gigi mengurangi dua jenis limbah yang jumlahnya sangat besar di Indonesia.

Awalnya, Polyshell Dent merupakan bagian dari penelitian Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dilakukan oleh tim Odonto di bawah kepemimpinan Rhena Fitria Khairunnisa. Penelitian ini membuktikan potensi besar campuran PP dan kalsium karbonat sebagai bahan baku model gigi.

Dari riset tersebut, ide kemudian dikembangkan menjadi usaha dalam skema PKM Kewirausahaan (PKM-K). Dalam program ini, lahirlah Tim Polyshell Dent yang diketuai oleh M. Dwi Haikal dengan anggota Aurora Graciela, Ferdy Salim Lubis, Nathan Pratama, dan Viola Pakpahan.

Tim ini tidak hanya berhenti pada tataran eksperimen, tetapi juga bergerak ke aspek produksi, distribusi, hingga strategi pemasaran. Target mereka jelas: menyediakan alternatif model gigi yang kuat, terjangkau, dan ramah lingkungan bagi fakultas kedokteran gigi di seluruh Indonesia.

Hasil uji laboratorium mendukung keunggulan Polyshell Dent. Penambahan kalsium karbonat pada plastik PP terbukti meningkatkan sifat mekanis material melalui proses nukleasi. Hal ini sesuai dengan temuan Budiyantoro et al. (2018).

Lebih lanjut, penelitian oleh Khairunnisa (2024) menunjukkan bahwa model gigi dari campuran PP dan kalsium karbonat lebih kuat dibanding model resin pabrikan. Sementara itu, Chai (2024) mengungkapkan bahwa material ini dapat terurai di tanah dalam waktu singkat, yakni sekitar 25 hari.

Hadirnya Polyshell Dent membawa manfaat yang luas:

  • Untuk pendidikan, mahasiswa dapat berlatih dengan biaya lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.

  • Untuk lingkungan, produk ini membantu mengurangi sampah plastik dan limbah cangkang kerang.

  • Untuk ekonomi, membuka jalan bagi usaha berbasis inovasi mahasiswa yang mengusung konsep circular economy.

Lebih dari sekadar produk, Polyshell Dent adalah gambaran bagaimana ilmu pengetahuan bisa bersinergi dengan kepedulian sosial dan lingkungan. Inovasi ini juga dapat menjadi inspirasi pengembangan produk serupa dari limbah, misalnya alat peraga laboratorium atau komponen edukasi berbasis polimer ramah lingkungan.

“Kami ingin membuktikan bahwa inovasi mahasiswa bisa memberikan dampak nyata, tidak hanya untuk dunia akademik, tetapi juga bagi lingkungan dan masyarakat luas,” ujar M. Dwi Haikal, ketua Tim Polyshell Dent.

Sementara itu, anggota tim lainnya — Aurora Graciela, Ferdy Salim Lubis, Nathan Pratama, dan Viola Pakpahan — sepakat bahwa Polyshell Dent bukan hanya proyek sementara, melainkan usaha yang bisa terus berlanjut. Mereka menekankan pentingnya keberlanjutan produksi dan dukungan dari berbagai pihak agar produk ini bisa dipasarkan secara massal.

Polyshell Dent membuktikan bahwa masalah bisa diubah menjadi peluang. Dari limbah plastik dan cangkang kerang yang dianggap tidak bernilai, lahirlah produk inovatif yang bermanfaat bagi pendidikan, ramah bagi lingkungan, dan memiliki potensi ekonomi.

Artikel ini merupakan bagian dari publikasi kegiatan PKM-K USU 2025 yang didampingi oleh drg. Kholidina Imanda Harahap, M.DSc. Ikuti perjalanan inovasi Polyshell Dent melalui akun Instagram resmi: @polyshelldent.pkmkusu.

Dengan kreativitas, riset ilmiah, dan semangat kewirausahaan mahasiswa, Polyshell Dent layak disebut sebagai salah satu terobosan inspiratif dari dunia kampus untuk Indonesia.